MAKALAH PENJASORKES
“
Pertumbuhan & Perkembangan Remaja ”
Di Susun Oleh :
Abdul Malik (01)
Adetia Purnama Sari
(02)
Dian Tri Ceriantina (13)
Halinda Febrianti (19)
M. Zaki Ardian (22)
Resa Alfiana Safira
(31)
DINAS
PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
KABUPATEN
BREBES TAHUN 2013
SMA
NEGERI 1 BUMIAYU
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Remaja
dan permasalahannya tidak pernah selesai diperbincangkan dalam berbagai hal.
Terutama dalam hal pemenuhan kebutuhannya, itu di karenakan di dalam
pertumbuhan dan perkembangannya menuju ke jenjang kedewasaan
kebutuhan-kebutuhan remaja tersebut selalu mengalami perubahan. Kebutuhan fisik
dan psikologis merupakan dua kebutuhan yang sangat mendasar di dalam kehidupan
para remaja. Kedua kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yang menyebabkan
bagaimana mereka berperilaku, dan bukan hanya para remaja saja yang berperilaku
berdasarkan kedua kebutuhan tersebut, namun pada umumnya semua manusia
akan berperilaku berdasarkan kedua kebutuhan tersebut.
Kebutuhan
dasar remaja dan manusia pada umumnya tidak lepas dari masalah-masalah dan
Konsekuensinya, untuk itu kami berusaha untuk menyajikan bagaimana
kebutuhan – kebutuhan remaja tersebut dan permasalahannya dapat terselesaikan.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang
dialami oleh remaja secara kontinue. pertumbuhan dan perkembangan adalah
proses yang saling berhubungan tak bisa dilepaskan dari kehidupan
remaja.Pertumbuhan merupakan proses yang berkaitan dengan dengan perubahan
kuantitatf yang mengacu pada jumlah besar serta luas yang bersifat konkret yang
biasanya menyangkut ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah proses
perubahan dari segi fisik yang berlangsung normal dalam perjalanan wakt
tertentu. Dalam setiap pertumbuhan bagian – bagian tubuh memiliki tempo
kecepatan yang berbeda – beda. Misalnya pertumbuhan alama kelamin pria, pada
masa anak-anak alat kelamin tumbuh lambat namun setelah pubertas mengalami
percepatan. Sebaliknya pertumbuhan susunan saraf pusat mengalami percepatan
saat masa anak-anak namun setelah masa pubertas relatig lambat bahkan terhenti.
1.
Faktor
– Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan yang kurang normal pada organisme
a.
Faktor
– faktor yang terjadi sebelum lahir. Misalnya Pada saat masa kehamilan seorang
ibu dan janin mengalami kekurangan nutrisi , Kercaunan, TBC dan sebagainya
b.
Faktor
ketika lahir. Salah satunya yaitu pendarahan pada otak bayi intracranial
haemorage disebabkan oleh tekanan dinding rahim sewaktu ia dilahirkan dan
oleh efek susunan saraf pusat, karena proses kelahiran bayi dilakukakan dengan
bantuan tangver-lossing
c.
Faktor
yang dialami bayi setelah lahir antara lain oleh karena pengalaman traumatik
pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi / Janin terpukul ,
atau mengalami serangan sinar matahari dan sebagainyayayasan perawatan bayi dan
lain-lain
d.
Faktor
Psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan bibu, ayah atau kedua
orang tuanya . Sebab lain ialah anak dititipkan pada suatu lembaga seperti
rumah sakit, rumah yatim piatu sehingga mereka kurang sekali mendapatkan
perwatan jasmaniah dan cinta kasih sayang orang tua. Anak – anak tersebut
mengalami kehampaan psikis ( innatie psikis )
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus
dihubungkan dengan perkembangan yakni
1. Ortogenetik yang berhubungan dengan
perkembangan sejak terbentuknya indivdu yang baru dan seterusnya sampai dewasa
2. Filogenetik yakni perkembangan dari
asal usul manusia sampai sekarang ini. Perkembangan perubahan fungsi sepanjang
masa hidupnya menyebabkan perubahan tingkah laku dan perubahan ini juga
tersedia sejak permulaan adanya manusia. Jadi perkembangan Ortogenetik mengarah
ke suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi yang mengarah kepada
kesempurnaaan manusia.
2. Hukum – Hukum Pertumbuhan dan
Perkembangan
1.
Hukum
Cephalocoudal
Hukum ini berlaku pada pertumbuhan fisik yang menyatakan
bahwa pertumbuhan fisik dimulai dari kepala ke arah kaki. Bagian-bagian pada kepala
tumbuh lebih dahulu daripada bagian-bagian lain. Hal ini sudah terlihat pada
pertumbuhan pranatal, yaitu pada janin. Seorang bayi yang baru dilahirkan
mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih “matang” daripada
bagian-bagian tubuh lainnya. Bayi bisa menggunakan mulut dan matanya lebih
cepat daripada anggota badan lainnya. Baik pada masa perkembangan pranatal,
neonatal, rnaupun anak-anak, proporsi bagian kepala dengan rangka batang
tubuhnya mula-mula kecil dan makin lama perbandingan ini makin besar.
2.
Hukum
Proximodistal
Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada
pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini pertumbuhan fisik berpusat pada sumbu
dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat, seperti jantung,
hati, dan alat-alat pencernaan lebih dahulu berfungsi daripada anggota tubuh
yang ada di tepi. Hal ini tentu saja karena alat-alat tubuh yang terdapat pada
daerah pusat itu lebih vital daripada misalnya anggota gerak seperti tangan dan
kaki. Anak masih bisa melangsungkan kehidupannya bila terjadi
kelainan-kelainan pada anggota gerak, akan tetapi bila terjadi kelainan sedikit
saja pada jantung atau ginjal bisa berakibat fatal.
3.
Perkembangan
Terjadi dari Umum ke Khusus
Pada setiap aspek terjadi proses perkembangan yang dimulai
dari hal-hal yang umum, kemudian secara sedikit demi sedikit meningkat ke
hal-hal yang khusus. Terjadi proses diferensiasi seperti dikemukakan oleh
Werner. Anak lebih dahulu mampu menggerakkan lengan atas, lengan bawah, tepuk
tangan terlebih dahulu daripada menggerakkan jari-jari tangannya.
4.
Perkembangan Berlangsung dalam Tahapan-Tahapan
Perkembangan
Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi ke
dalam masa-masa perkembangan. Pada setiap masa perkembangan terdapat ciri-ciri
perkembangan yang berbeda antara ciri-ciri yang ada pada suatu masa
perkembangan dengan ciri-ciri yang ada pada masa perkembangan yang lain.
Ada aspek-aspek tertentu yang tidak berkembang dan tidak
meningkat lagi, yang hal ini disebut fiksasi. Aspek intelek pada anak-anak
tertentu yang memang secara konstitusional terbatas, pada suatu saat akan
relatif berhenti, tidak bisa atau sulit berkembang dan dikembangkan.
Contoh penahapan dalam perkembangan manusia itu antara lain
meliputi: masa pra-lahir, masa jabang bayi (0 – 2 minggu), masa bayi (2 minggu
– 1 tahun), masa anak pra-sekolah (1 – 5 tahun), masa sekolah (6 – 12 tahun),
masa remaja (13 – 21 tahun), masa dewasa (21 – 65 tahun), dan masa tua (65
tahun ke atas).
5.
Hukum
Tempo dan Ritme Perkembangan
Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan,
terus-menerus dan dalam tempo perkembangan yang relatif tetap serta bisa
berlaku umum. Justru perbedaan-perbedaan waktu, yaitu cepat-lambatnya sesuatu
penahapan perkembangan terjadi, atau sesuatu masa perkembangan dijalani,
menampilkan adanya perbedaan-perbedaan individu.
Dalam praktek sering terlihat dua hal sebagai petunjuk
keterlambatan pada keseluruhan perkembangan mental, yakni:
a.
Jika
perkembangan kemampuan fisiknya untuk berjalan jauh tertinggal dari patokan
umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionalitas fisiknya yang terganggu.
b.
Jika
perkembangan kemampuan berbicara sangat terlambat dibandingkan dengan anak-anak
lain pada masa perkembangan yang sama. Seorang anak yang pada umur empat tahun
misalnya masih mengalami kesulitan dalam berbicara, mengemukakansesuatu dan
terbatas perbendaharaan kata, mudah diramalkan anak itu akan mengalami
kelambatan pada seluruh aspek perkembangannya.
3. Remaja: Karakteristik Pertumbuhan
dan Perkembangannya
Remaja itu sulit didefinisikan secara mutlak. Oleh karena
itu, dicoba untuk memahami remaja menurut berbagai sudut pandangan, antara lain
menurut hukum, perkembangan fisik, WHO, sosial psikologi, dan pengertian remaja
menurut pandangan masyarakat Indonesia.
1.
Remaja Menurut Hukum
Dalam hubungan dengan hukum, tampaknya hanya undang-undang
perkawinan saja yang mengenal konsep “remaja” walaupun tidak secara terbuka.
Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut undang-undang disebutkan 16 tahun
untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (Pasal 7 Undang-Undang No.1/1974 tentang
Perkawinan).
2.
Remaja
Ditinjau dari Sudut Perkembangan Fisik
Dalam ilmu kedokteran dan ilmu-ilmu lain yang terkait,
remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin
manusia mencapai kematangannya. Masa pematangan fisik ini berjalan kurang lebih
2 tahun dan biasanya dihitung mulai menstruasi (haid) pertama pada anak wanita
atau sejak anak pria mengalami mimpi basah (mengeluarkan air mani pada waktu
tidur) yang pertama kali. Khusus berkaitan dengan kematangan seksual merangsang
remaja untuk memperoleh kepuasan seksual. Hal ini dapat menimbulkan gejala
onani atau masturbasi. Kartini Kartono (1990: 217) memandang gejala onani ini
sebagai tindakan remaja yang negatif, karena gejala ini merupakan usaha untuk
mendapatkan kepuasan seksual yang semu (penodaan diri).
3.
Batasan
Remaja Menurut WHO
a.
Remaja
adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana:
Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual
Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual
b.
Individu
mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi
dewasa.
c.
Terjadi
peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang
relatif lebih mandiri (Muangman, yang dikutip oleh Sarlito, 1991:
9)
4.
Remaja
Ditinjau dari Faktor Sosial Psikologis
Salah satu ciri remaja di samping tanda-tanda seksualnya
adalah: “Perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi
dewasa”. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan
dari kondisi “entropy” ke kondisi “negen-tropy” (Sarlito, 1991: 11).
Entropy
adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Walaupun
isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya), namun isi-isi
tersebut belum saling terkait dengan baik, sehingga belum bisa berfungsi secara
maksimal. Isi kesadaran masih saling bertentangan, saling tidak berhubungan
sehingga mengurangi kerjanya dan menimbulkan pengalaman yang kurang
menyenangkan buat orang yang bersangkutan.
Negentropy
adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu
terkait dengan perasaan atau sikap. Orang dalam keadaan negentropy ini merasa
dirinya sebagai kesatuan yang utuh dan bisa bertindak dengan tujuan yang jelas,
ia tidak perlu dibimbing lagi untuk bisa mempunyai tanggung jawab dan semangat
kerja yang tinggi.
5.
Definisi
Remaja untuk Masyarakat Indonesia
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja
Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena
Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan sosial-ekonomi,
maupun pendidikan. Sebagai pedoman umum untuk remaja Indonesia dapat digunakan
batasan usia 11 – 24 tahun dan belum menikah. Pertimbangan-pertimbangannya
adalah sebagai berikut:
a.
Usia
11 tahun adalah usia dimana pada umumnya tanda-tanda seksual sekunder mulai
tampak (kriteria fisik).
b.
Di
banyak masyarakat Indonesia, usia 11 tahun sudah dianggap akil balik, baik
menurut adat maupun agama, sehingga masyarakat tidak lagi mempermalukan mereka
sebagai anak-anak (kriteria sosial).
c.
Pada
usia tersebut mulai ada tanda-tanda penyempurnaan perkembangan jiwa seperti
tercapainya identitas diri, tercapainya fase genital dari perkembangan kognitif
maupun moral.
d.
Batas
usia 24 tahun merupakan batas maksimal, yaitu untuk memberi peluang bagi mereka
yang sampai batas usia tersebut masih menggantungkan diri pada orang lain,
belum mempunyai hak-hak penuh sebagai orang dewasa (secara tradisi).
5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.
5) Status perkawinan sangat menentukan, karena arti perkawinan masih sangat penting di masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Seorang yang sudah menikah pada usia berapa pun dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa penuh, baik secara hukum maupun dalam kehidupan masyarakat dan keluarga.
WHO menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia
remaja. WHO menyatakan walaupun definisi di atas terutama didasarkan pada usia
kesuburan wanita, batasan tersebut berlaku juga untuk remaja pria, dan WHO
membagi kurun usia dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja
akhir 15-20 tahun.
PBB sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya kelihatan sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya
PBB sendiri menetapkan usia 15-24 tahun sebagai usia pemuda (youth) dalam rangka keputusan mereka untuk menetapkan tahun 1985 sebagai Tahun Pemuda Internasional.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya kelihatan sudah “dewasa”, akan tetapi bila diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukkan kedewasaannya. Pada remaja sering terlihat adanya
a.
Kegelisahan:
Keadaan yang tidak tenang menguasai diri si remaja. Mereka mempunyai banyak
macam keinginan yang tidak selalu dapat dipenuhi.
b.
Pertentangan:
Pada umumnya timbul perselisihan dan pertentangan pendapat dan pandangan antara
si remaja dan orang tua. Selanjutnya pertentangan ini menyebabkan timbulnya
keinginan remaja yang hebat untuk melepaskan diri dari orang tua.
c.
Berkeinginan
besar untuk mencoba segala hal yang belum diketahuinya. Mereka ingin mencoba
apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Malapetaka akan dialaminya sebagai akibat
penyaluran yang tidak ada manfaatnya.
d.
Keinginan
menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, misalnya melibatkan diri dalam
kegiatan-kegiatan pramuka, kelompok atau himpunan pecinta alam, dan sebagainya.
e.
Mengkhayal
dan berfantasi: Khayalan dan fantasi remaja banyak berkisar mengenai prestasi
dan tangga karier.
f.
Aktivitas
berkelompok: Kebanyakan remaja-remaja menemukan jalan keluar dari
kesulitan-kesulitannya dengan berkumpul-kumpul melakukan kegiatan bersama,
mengadakan penjelajahan secara berkelompok.
4.
Kebutuhan Remaja, Masalah, dan Konsekuensinya
Masa
remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Hall
(dalam liebert dan kawan-kawan, 1974:478) memandang bahwa masa remaja ini
sebagai masa “storm and stress”. Ia menyatakan bahwa selama masa remaja
banyak masalah yang di hadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati
dirinya (identitasnya) kebutuhan aktualisasi diri. Usaha penemuan jati diri
remaja dilakukan dengan berbagai pendekatan. Beberapa jenis kebutuhan remaja
dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu:
1. kebutuhan organik, makan, minum,
bernapas, seks
2. kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan
yang mendapatkan simpati dan pengakuan dari pihak lain, dikenal dengan n
Aff
3. kebutuhan berprestasi atau need
of achievement (yang dikenal dengan n Ach), yang berkembang karena
dorongan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus kemampuan
psikologis, dan
4. kebutuhan untuk mempertahankan diri
dan mengembangkan jenis.
Pertumbuhan
fisik dan perkembangan sosial psikologis di masa remaja pada dasarnya merupakan
lanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses pertumbuhan, dan
perkembangan dari proses sebelumnya. Seperti halnya pertumbuhan fisik
yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awal masa
remaja sebagai indicator menuju tingkat kematangan fungsi seksual seseorang.
Disamping
itu remaja membutuhkan pengakuan akan kemampuannya, yang menurut Maslow
kebutuhan ini disebut kebutuhan penghargaan. Factor non fisik, yang secara
integrative tergabung didalam factor sosial psikologis dijiwai oleh tiga
potensi dasar yang dimiliki manusia yaitu piker, rasa dan kehendak. Ketiganya
secara potensial mendorong munculnya berbagai kebutuhan. Remaja telah memahami
berbagai aturan didalam kehidupan masyarakat
Dalam
kehidupan dunia modern, manusia tidak hanya berpikir tentang kebutuhan pokok,
mereka telah lebih maju. Pemikirannya telah bercakrawala oleh karena itu
kebutuhan pokoknya juga telah berkembang dalam menghadapi masalah dan
perkembangan sosial psikologis, menjadi manusia berprestasi telah
merupakan kebutuhan sosial yang membimbingnya untuk berhasil dan lebih lanjut
untuk menjadi orang yang berhasil dan berprestasi
Beberapa
masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhannya dapat diuraikan
sebagai berikut:
a. Upaya untuk merubah sikap dan
perilaku kekanak- kanakan menjadi sikap dan perilaku dewasa, tidak semuanya
dapat dengan mudah dicapai baik oleh remaja laki-laki maupun perempuan. Pada
masa ini remaja menghadapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku yang
besar, sedang dipihak lain harapan ditumpukkan pada remaja untuk dapat
meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku.
b. Sering kali para remaja kesulitan
untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya . hanya sedikit remaja yang
merasa puas dengan tubuhnya. Hal ini disebabkan pertumbuhan tubuhnya dirasa
tidak serasi
c. perkembangan fungsi seks pada masa
ini dapat menimbulkan kebingungan remaja untuk memahaminya, sehingga sering
terjadi salah tingkah dan perilaku yang menentang norma pandangannya terhadap
sebaya lain jenis kelamin dapat menimbulkan kesulitan dalam pergaulan.
Bagi remaja laki-laki dapat menyebabkan berperilaku yang “menentang norma” dan
bagi remaja perempuan akan berperilaku ”mengurung diri” atau menjauhi pergaulan
dengan lain jenis
d. Dalam memasuki kehidupan
bermasyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kesendirian, dalam arti menilai
dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan
menghadapi berbagai masalah , terutama masalah penyesuaian emosional, seperti
perilaku over cting, “lancing”, dan semacamnya kehidupan bermasyarakat
banyak menuntut remaja untuk banyak menyesuaikan diri, namun yang terjadi tidak
semuanya selaras.
5.
PSIKIS REMAJA
1.
Remaja Awal
v Ketidakstabilan keadaan perasaan dan
emosi
v Pada masa ini, remaja mengalami badai
dan topan dalam kehidupan perasaan dan emosinya. Keadaan semacam ini sering
disebut strom and stress. Remaja sesekali sangat bergairah dalam bekerja
tiba-tiba berganti lesu, kegembiraan yang meledak bertukar rasa sedih yang
sangat, rasa percaya diri berganti rasa ragu-ragu yang berlebihan, termasuk
ketidaktentuan dalam menentukan cita-cita dan menentukan hal-hal yang lain.
v Status remaja awal yang membingungkan
v Status mereka
tidak hanya sulit ditentukan, tetapi juga membingungkan. Perlakuan orang tua
terhadap mereka sering berganti-ganti. Orang tua ragu memberikan tanggungjawab
dengan alasn mereka masih “kanak-kanak”. Tetapi saat mereka bertingkah kekanak-kanakan,
mereka mendapat teguran sebagai “orang dewasa”. Karena itu, mereka bingung akan
status mereka.
v Banyak masalah yang dihadapi remaja
v Remaja awal sebagai individu yang
banyak mengalami masalah dalam kehidupannya. Hal ini
dikarenakan mereka lebih mengutamakan emosionalitas sehingga kurang mampu
menerima pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya. Faktor ini
disebabkan karena mereka menganggap bahwa dirinya lebih mampu daripada orang
tua.
2.
Remaja Akhir
v Pada masa ini
terjadi proses penyempurnaan pertumbuhan fisik dan perkembagngan psikis.
v Stabilitas mulai timbul dan meningka,
Stabilitas
mulai timbul dan meningkat dalam aspek psikis. Demikian pula stabil dalam
minat-minatnya; pemilihan sekolah, jabatan, pakaian, pergaulan dengan sesame
ataupun lain jenis. Mereka mulai menunjukkan kemantapan serta tidak mudah
berubah pendirian, Proses menjadi stabil ini akan lebih cepat apabila orang tua
berperan dengan lebih demokratis.
v Citra diri dan
sikap pandang yang lebih realistis, Disini remaja mulai menilai dirinya
sebagaimana adanya (apa adanya), menghargai miliknya, keluarganya dan orang
lain seperti keadaan sesungguhnya.
v Menghadapi masalahnya
secara lebih matang, Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan piker remaja
akhir yang telah lebih sempurna dan ditunjang oleh sikap pandangan yang lebih
realistis.
v Perasaan menjadi lebih tenang, Mereka tidak lagi menampakkan
gejala-gejala strom and stress sehingga muncullah suatu
ketenangan dalam diri mereka.
v Perubahan Fisik Selama Masa Remaja, Periode
sebelum masa remaja ini disebut sebagai PERIODE PUBERTAS (ambang pintu masa
remaja). PUBERTAS jelas berbeda dengan masa REMAJA, walopun bertumpang tindih
dengan masa remaja awal.
F.
PERUBAHAN FISIK
1.
CIRI-CIRI REMAJA AWAL(Teenagers)
v Terjadi pertumbuhan fisik yang pesat
v Dalam jangka 3-4 tahun anak
bertumbuh hingga tingginya hampir menyamai tinggi ortu.
v Pertumbuhan
anggota badan dan otot-otot sering tidak seimbang. Akibatnya……
v Pada laki-laki
mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha dan betis.
Pada wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakannya dengan tubuh
kanak-kanak.
v Dalam hal
kecepatan pertumbuhan, terutama nampak jelas dalam usia 12-14 tahun remaja
putri bertumbuh demikian cepat meninggalkan pertumbuhan remaja pria.Akibatnya….
v Dalam masa
pertumbuhan ini baik remaja pria maupun remaja wanita cenderung ke arah
memanjang dibanding melebar.
v Kematangan
kelenjar seks pada usia 11/12 th – 14/15 th.Biasanya pertumbuhan itu lebih
cepat pada remaja putri dibanding remaja putra.
2.
CIRI-CIRI REMAJA AKHIR
v Pertumbuhan fisik remaja relatif
berkurang dengan kata lain tidak sepesat dalam masa remaja awal.Bagi remaja
pria pada usia 20 th dan remaja wanita 18 th keadaan tinggi badan mengalami
pertumbuhan yang lambat.
v Mengalami keadaan sempurna bagi
beberapa aspek pertumbuhan dan menunjukkan kesiapan untuk memasuki masa dewasa
awal. Seperti badan dan anggota badan menjadi berimbang, wajah yang simetris,
bahu yang berimbang dengan pinggul.
v Saat ini,
remaja mengalami perubahan fisik (dalam tinggi dan berat badan) lebih awal dan
cepat berakhir daripada orang tuanya. Kecenderungan ini disebut trend secular.
Sebagai contoh, seratus tahun yang lalu, remaja USA dan Eropa Barat mulai
menstruasi sekitar usia 15 – 17 tahun, sekarang sekitar 12 – 14 tahun. Di tahun
1880, laki-laki mencapai tinggi badan sepenuhnya pada usia 23 – 24 tahun dan
perempuan pada usia 19 – 20 tahun, sekarang laki-laki mencapai tinggi maksimum
pada usia 18 – 20 dan perempuan pada usia 13 – 14 tahun.
v Trend secular
terjadi sebagai akibat dari meningkatnya faktor kesehatan dan gizi, serta
kondisi hidup yang lebih baik. Sebagai contoh, meningkatnya tingkat kecukupan
gizi dan perawatan kesehatan, serta menurunnya angka kesakitan (morbiditas) di
usia bayi dan kanak-ka
3.
Pubertas
v Pubertas adalah
periode pada masa remaja awal yang dicirikan dengan perkembangan kematangan
fisik dan seksual sepenuhnya (Seifert & Hoffnung, 1987). Pubertas ditandai
dengan terjadinya perubahan pada ciri-ciri seks primer dan sekunder.
v Ciri-ciri seks
primer memungkinkan terjadinyanya reproduksi. Pada wanita,
ciri-ciri ini meliputi perubahan pada vagina, uterus, tube fallopi, dan ovari.
Perubahan ini ditandai dengan munculnya menstruasi pertama. Pada pria,
ciri-ciri ini meliputi perubahan pada penis, scrotum, testes, prostate gland,
dan seminal vesicles. Perubahan ini menyebabkan produksi sperma yang cukup
sehingga mampu untuk bereproduksi, dan perubahan ini ditandai dengan keluarnya
sperma untuk pertama kali (biasanya melalui wet dream).
v Ciri-ciri seks
sekunder meliputi perubahan pada buah dada, pertumbuhan bulu-bulu pada bagian
tertentu tubuh, serta makin dalamnya suara. Perubahan ini erat kaitannya dengan
perubahan hormonal. Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar
endokrin, kemudian dilepaskan melalui aliran darah menuju berbagai organ tubuh.
v Kelenjar seks
wanita (ovaries) dan pria (testes) mengandung sedikit hormon. Hormon ini
berperan penting dalam pematangan seksual. Kelenjar pituitary (yang berada di
dalam otak) merangsang testes dan ovaries untuk memproduksi hormon yang
dibutuhkan. Proses ini diatur oleh hypothalamus yang berada di atas batang
otak.
4.
Dampak Pertumbuhan Fisik terhadap
Kondisi Psikologis Remaja
v Pertumbuhan
fisik yang sangat pesat pada masa remaja awal ternyata berdampak pada kondisi
psikologis remaja, baik putri maupun putra. Canggung, malu, kecewa, dll. adalah
perasaan yang umumnya muncul pada saat itu.
v Hampir semua
remaja memperhatikan perubahan pada tubuh serta penampilannya. Perubahan fisik
dan perhatian remaja berpengaruh pada citra jasmani (body image) dan
kepercayaan dirinya (self-esteem).
v Ada tiga jenis
bangun tubuh yang menggambarkan tentang citra jasmani, yaitu endomorfik,
mesomorfik dan ektomorfik. Endomorfik banyak lemak sedikit otot (padded).
Ektomorfik sedikit lemak sedikit otot (slender). Mesomorfik sedikit lemak
banyak otot (muscular).
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Masa remaja merupakan masa pencarian jati diri seseorang
dalam rentang masa kanak-kanak sampai masa dewasa. Pada masa ini, pola pikir
dan tingkah laku remaja sangat berbeda pada saat masih kanak-kanak. Hubungan
dengan kelompok (teman sebaya) lebih erat dibandingkan hubungan dengan orang
tua. Teori-teori perkembangan remaja antara lain, teori psikoanalisa, teori
psikososial, teori kognitif serta teori tingkah laku dan belajar sosial. Tahap
perkembangan remaja dimulai dari fase praremaja, remaja awal, dan remaja akhir.
Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja antara lain, perubahan
fisik yang terjadi pada remaja terlihat pada saat masa pubertas yaitu
meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial, remaja berfikir
secara logis dan transisi sosial remaja mengalami perubahan dalam hubungan
individu dengan manusia lain. Sementara itu, ciri khas remaja adalah hubungan
dengan teman sebaya lebih erat, hubungan dengan orang tua penuh konflik,
keingintahuan seks yang tinggi, dan mudah stres.
B.
Saran
Manusia harus lebih memahami kebutuhan yang dia
butuhkan. Manusia dan khususnya remaja harus memperoleh kebutuhannya agar dapat
hidup dengan normal. Perubahan-perubahan
yang terjadi pada masa remaja menimbulkan berbagai konflik batin maupun psikis.
Orang tua harus benar-benar memahami konsekuensi perubahan pada remaja.
Sementara itu, perawat dapat dijadikan tempat konseling untuk remaja
sebagaimana peran perawat dan sebagai perawat yang menghadapi permasalahan
remaja senantiasa memberikan bimbingan atau konseling yang baik atau yang tidak
memojokkan remaja tersebut dalam masalah yang dihadapinya.
DAFTAR
PUSTAKA
http://dreameducation.wordpress.com/2011/03/18/pertumbuhan-dan-perkembangan-remaja/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar